Berita & Press Release

Analisa & Solusi Permasalahan Industri Barecore

A. Bahan Baku

Dengan tumbuh pesatnya industri barecore yang tidak diimbangi dengan ketersediaan bahan yang cukup menyebabkan bahan baku menjadi susah dan harganya tinggi. Belum lagi kwalitas bahan yang semakin berkurang.

Untitledddd

Program kerja IbcA di bidang bahan baku antara lain :  Pendataan kapasitas produksi & kebutuhan bahan baku seluruh perusahaan barecore indonesia, untuk mengetahui kebutuhan riil yang ada.  Pendataan ketersediaan bahan baku & lokasi penanaman sengon sebagai bahan baku barecore. Lokasi penanaman diusahakan mendekati sentra-sentra industri barecore, sehingga waktu & biaya pengiriman bisa dihemat.  Penanaman sengon dengan cara yang sistematik & ramah lingkungan. Tahun ini IbcA menargetkan melakukan penanaman 1 juta pohon.  Standarisasi bahan baku.  Berkoordinasi dengan petani & pemerintah untuk menjaga ketersediaan bahan baku barecore.

B. Sumber Daya Manusia

Dalam sebuah usaha, sumber daya manusia memegang peranan yang sangat penting terhadap keberhasilan suatu usaha. Untuk itulah Indonesian bare core association IbcA merasa perlu membentuk bidang yang khusus menangani sumber daya manusia. Dengan sumber daya manusia yang handal & menguasai bidang kerjanya maka effisiensi & effektifitas produksi barecore akan terjaga sehingga profitabilitas akan semakin tingi. Program kerja bidang sumber daya manusia Indonesian Bare Core Assocition 2015/2020 antara lain sebagai berikut: Membuat Standar Operasional Prosedur (SOP) produksi barecore. Dengan SOP yang baik pekerjaan akan lebih terarah & terukur.  Melakukan pendidikan & pelatihan terhadap sumber daya manusia perusahaan-perusahaan yang menjadi anggota IbcA.  Membantu perusahaan dalam proses rekruitment & seleksi penerimaan karyawan baru, karena rekruitment dan seleksi merupakan titik awal untuk mendapatkan sumber daya manusia yang handal.  Membuat standar operasional prosedur K3  Melakukan bimbingan mental terhadap sumber daya manusia yang ada sehingga etos kerja & atitut lebih baik.  Penerapan Jamsostek di perusahaan-perusahaan perlaku industri barecore.

C. Peningkatan Kemampuan Produksi/Tehnologi

Profitabilitas usaha barecore salah satunya bergantung pada effisiensi dan produktifitas. Effisiensi dan produktifitas selain dipengaruhi oleh sumber daya manusia yang baik juga sangat bergantung pada mesin-mesin dan layout produksi. Layout produksi yang kurang tepat akan memperlambat proses produksi, karena waktu produksi akan banyak tersita untuk mobilitas barang. Demikian juga mesin-mesin yang kurang pas & kurang presisi akan mengurangi effisiensi produksi. Dengan mesin yang kurang baik maka rendemen dipastikan akan jatuh dan bisa mengurangi keuntungan perusahaan, parahnya bisa menyebabkan kerugian usaha.

vmbn
Bidang Industri/tehnik Indonesian Barecore Association IbcA berusaha mengatasi permasalahan tersebut dengan beberapa program utama, antara lain :  Membuat Standar Operasional Prosedur (SOP) produksi barecore. Dengan SOP yang baik pekerjaan akan lebih terarah & terukur.  Membuat layout produksi barecore.  Rekayasa tehnologi sehingga menghasilkan mesin-mesin pengolah barecore yang lebih effektif & effisien.  Melakukan pendampingan konsultasi bagi perusahaan-perusahaan yang membutuhkan.  Pengembangan produk lanjutan dari barecore.

D. Promosi & Pemasaran

Pasar barecore memang masih didominasi china, karena pasar yang masih terbatas maka kadang industri barecore seolah dipermainkan. Harga tidak terkontrol, Padahal indonesia merupakan produsen terbesar di dunia. Hampir 95 % barecore china diimpor dari indonesia. Karena kita memiliki bahan baku yang tidak dimiliki negara lain. Ini seharusnya menjadi keuntungan kita.

Program kerja bidang Pemasaran Indonesian Bare Core Association adalah :  Memperluas pasar barecore, kita kenalkan barecore ke negara-negara lain. Eropa, Amerika, dll  Menjaga stablilitas harga, membentuk price leadership yang beranggotakan perusahaan-perusahaan besar untuk menentukan bottom price barecore. Saat ini bottom price barecore IbcA USD 275 per meter kubik dan akan diwvaluasi tiap bulan.  Standarisasi produk, ini untuk menjaga kepercayaan buyer.  Inovasi produk, kita buat produk lanjutan dari barecore.  Pembangunan ware house di pasar-pasar utama ekspor, agar bisa berhubungan langsung dengan buyer. Hubungan dengan buyer diharapkan akan lebih baik  Mendirikan Koperasi IbcA yang bisa menampung/membeli produk dari perusahaan yang menjual barecore dengan harga murah sehingga harga tidak terus ditekan.

E. Penyederhanaan Kebijakan/Regulasi

khnk

Saat ini masih cukup banyak regulasi-regulasi baik yang dibuat saat ini atau warisan pemerintah jaman dahulu yang kurang mendukung industri barecore, Regulasi tentang SVLK banyak pasal-pasalnya yang memberatkan petani & usaha sawmill. Dokumen angkut yang pengurusannya berbelit-belit juga menghambat usaha. Untuk itulah bidang Advokasi & Sertifikasi Indonesian Bare Core Association IbcA menyusun prioritas rencana program kerja 2015/2020 sebagai berikut : • Melakukan koordinasi dengan pemerintah agar kebijakan terkait SVLK yang memberatkan petani & pengusaha barecore direvisi. • Indonesian bare core association IbcA, bisa membangun sebuah Koperasi Bersama. • Stabilitas harga • Assosiasi mengusahakan dana talangan bagi pengusaha barecore apabila harga jual barecore turun drastis (anjlok) Demikian beberapa hal & program kerja yang sudah dilakukan IbcA untuk membangkitkan kembali industri barecore di tanah air. Masih banyak agenda kerja yang akan kita lakukan agar pelaku industri barecore bisa berjaya lagi.


PRESS RELEASE IbcA

07 November 2015

RAPAT KERJA NASIONAl ke 2 di YOGYAKARTA

  1. Kontribusi Assosiasi Terhadap Ekonomi

Satu satunya asosiasi yang menaungi para produsen barecore di Indonesia adalah IbcA (Indonesian barecore Association) dengan Ketua terpilih Bapak Ir. Hari Mulyono, walaupun masih berumur 187 hari per tanggal 7 Nopember 2015 ini, dan dengan jumlah anggota IbcA sejumlah : 125 perusahaan dari seluruh wilayah Indonesia yang kebanyakan dari pulau Jawa, kita sudah bisa memetakan beberapa permasalahan penting yang dihadapi produsen barecore di Indonesia saat ini.

Berdasarkan data expor s/d September 2015 Total Expor 31.050 countainer 40ˡ HC. Itu berarti kontribusi positif terhadap devisa negara sekitar USD 468.618.275 (harga rata2 USD 260/m³) s/d September 2015 dalam tahun 2015 akan mencapai USD 625.000.000

Kapasitas terpasang / kemampuan diestimasikan sekitar 5000 countainer 40ˡ HC /bulan atau 60.000 countainer 40ˡ HC. Ini berarti ada kelebihan supply kenegara tujuan expor (China, Taiwan) sekitar 30%. Memang belum semua pabrik belum mau masuk manjadi anggota IbcA, tetapi Assosiasi  mendorong mereka  untuk bersam-sama mendukung kemajuan bersama.

Sudah saatnya industri barecore dihitung kembali kapasitasnya terpasangnya dibandingkan dengan kemampuan pendukung bahan baku yang ada. Hal tersebut harus dilakukan adanya monatorium Industri barecore yang berbahan baku kayu rakyat (sengon), sehingga dapat tercipta keseimbangan demand dan supply bahan baku industri. Serta menjaga kelebihan supply expor ke negara tujuan.

Kontribusi Industri Barecore terhadap tenaga kerja. Dengan data expor 3.450 countainer 40ˡ HC/bulan akan terserap tenaga kerja.

  • Tenaga kerja langsung dipabrik :     400 orang
  • Diluar industri (keterkaitan)
  • Sawmill                                            :     020 orang
  • Transportasi                                   :     405 orang
  • Penebangan                                    : 211.000 orang

(masyarakat)

TOTAL                                                        : 222.425 orang

Bila estimasi kapasitas terpasang s/d 5000 countainer/bulan maka tenaga kerja yang terkait menjadi sekitar 320.000 orang.

IbcA secara real telah menggerakkan ekonomi negara,industri,pengrajin dan petani. Mengingat begitu besarnya peranan IbcA maka kepada pemangku kepentingan diharapkan ada jalinan kerjasama yang terkoordinasi baik dan bersikap sinergis.

Para pemangku kepentingan tersebut yaitu :

  • Pemerintah
  • Pengusaha barecore
  • Pengrajin
  • Penebang sengon
  • Petani budidaya kayu sengon
  1. Semboyan IbcA

Go Green
Go Quality
Go International

Untuk mendukung Semboyan tersebut harus dilakukan langkah – langkah strategi, sehingga industri menjadi lestari.
1. Go Green
Yang berbasis Industri yang ramah lingkungan / tidak merusak lingkungan. Sehingga harus dilakukan gerakan penanaman. Pada dasarnya kayu sengon merupakan kayu yang mempunyai waktu tanam sampai dengan penebangan sekitar 5 tahun.
Gerakan penanaman melibatkan pabrik, masyarakat dan pemerintah. Tanpa gerakan penanaman akan menajadikan industri kesulitan bahan baku.
Kebutuhan bahan baku :
Volume 1 countainer = 58.8216 mᵌ
Keperluan bahan baku :
• Kayu gergajian ; 136 mᵌ ( Recovery 43 % )
Setara dengan log : 170 pohon ( Recovery 80 % )
• 1 Pohon ᶲ30, tinggi 10 m : 0.7 mᵌ
Setara dengan 243 pohon
• 1 ha : 400 pohon ( 25 % pohon dari total tanam )
Setara dengan : 0.60 ha
Kebutuhan bahan sudah mendukung total.
Expor 3.450 countainer / bulan : 243 x 3.450 = 838. 350 pohon
• Luas lahan yang diperlukan : 838 .350/400 = 2.095ha/bulan = 24.140ha/ tahun
Dengan umur siap tebang 5 tahun
Lahan yang diperlukan = 125. 700 ha
Bibit yang diperlukan 1 ha = 1.600 bibit
Total bibit / th = 40. 224.000 bibit yang harus ditanam
Untuk melestarikan industri dan lingkungan gerakan penanaman sudah tidak bisa ditanam lagi, maka Asosiasi menjadi ujung tombak dalam gerakan ini dengan didukung seluruh Stake Holder ( Pabrik, Masyarakat, Pemerintah).
2. Go Quality
Salah satu syarat masuk dalam pasar global adalah Quality dari hasil Produksi
Maka Asosiasi mendorong terciptanya Quality produk yang bisa diterima dipasar International.
Langkah – langkah yang telah diambil :
• Membuat basic standarisasi produk
• Sosialisasi terhadap standard produk yang ada ke pabrik
• Sosialisasi standard produk kepada pembeli diluar negeri.
*Dalam rangka meningkatkan daya saing produk dan effisiensi, maka dilakukan peningkatan quality Raw Material sehingga akan terjadi effisiensi bahan baku industri, yang ditargetkan s/d 7-8 % yang melibatkan industri dengan masyrakat
3. Go International
Langkah kedepan yang harus diambil adalah :
1. Diversifikasi Produk
Langkah ini harus diambil dengan membuat produk barang jadi dengan Raw Material Barecore ( yang merupakan barang setengah jadi ).
2. Membuka atau mencari pasar negara – negara diluar china dan Taiwan
Kerjasama dengan perwakilan – perwakilan negara Indonesia diluar negeri sangat luas diperlukan, sehingga banyak informasi yang kita terima tentang produksi.

Download file :

Press release IbcA 07 November 2015


PRESS RELEASE

INDONESIAN BARECORE ASSOCIATION

SUNAN HOTEL SOLO

20 MEI 2015

Salam Indonesia,

Sebagai salah satu negara yang kaya akan hasil hutan yang melimpah, Indonesia dikenal sebagai negara penghasil kayu berkualitas bahkan pernah merajai industri kayu dunia pada periode 1980 hingga 1995 dengan perolehan devisa yang sangat besar dan mempunyai kontribusi ekonomi yang sangat luar biasa. Produk kayu Indonesia, seperti kayu lapis, kayu olahan dan lainnya berjaya di pasar dunia. Salah satunya adalah industri barecore, potongan kayu yang telah disusun ke bentuk papan yang merupakan bahan setengah jadi untuk produk furniture maupun dinding yang ramah lingkungan. Namun krisis tahun 1998 telah mengubah segalanya dan menjadikan industri ini jatuh ke titik paling rendah, sehingga banyak perusahaan yang tumbang. Tapi industri harus bangkit karena masih banyak potensi besar yang dapat dikembangkan. Perlahan namun pasti industri kayu dan furniture akan terus berkembang hingga ke manca negara.

Meskipun pertumbuhan industri kayu olahan tumbuh secara perlahan, namun permintaan kayu olahan serta barecore terus mengalami peningkatan permintaan. Disisi lain, justru ekspor barang jadi seperti mebel dan kerajinan kayu sedang mengalami penurunan, dikarenakan rumitnya pengurusan ekspor produk kayu. Sebenarnya Indonesia memiliki keunggulan sumber daya alam dibandingkan dengan negara lain, namun dari berbagai segi masih mengalami ketertinggalan.

Untuk bersaing dengan negara lain dalam konteks pasar bebas, Indonesia harus dapat meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam, tidak hanya mengekspor bahan baku, namun juga harus mampu mengolah agar nilai tambah tak berpindah tempat, serta diperlukan proteksi dan proteksi untuk menjaga serta melindungi industri ini.

Untuk itu dibentuklah sebuah asosiasi untuk menjembatani berbagai permasalahan yang muncul seputar industri barecore dengan lahirnya IbcA “Indonesian Bare Core Association” (Asosiasi pengusaha barecore seluruh Indonesia) yang dideklarasi pada tanggal 5 Mei 2015. Inisiator Asosiasi ini adalah Ir. Hari Mulyono. Gagasan ini muncul seiring dengan perkembangan industri barecore yang sangat pesat dari tahun ke tahun, sehingga perlu adanya wadah asosiasi untuk memecahkan masalah internal dan eksternal, peningkatan teknik, peningkatan SDM, ketersediaan bahan baku, serta ikut peduli selalu menjaga lingkungan.

Industri barecore Indonesia saat ini turut menyumbang devisa negara serta berperan aktif dalam peningkatan perekonomian Indonesia, tidak kurang dari $450 juta devisa negara dihasilkan oleh industri ini. Dengan potensi yang luar biasa ini diperlukan wadah sebagai tempat diskusi serta jembatan dalam pengembangan industri barecore tanah air.

Tujuan dari terbentuknya asosiasi ini adalah :

  1. Turut serta dalam pembangunan ekonomi negara
  2. Mendorong anggota untuk meningkatkan pengolahan dengan memperhatikan kelestarian hutan
  3. Mendorong anggota untuk meningkatkan perdagangan hasil produksi dengan memberikan data dan informasi sehingga tidak dipermainkan para tengkulak dan importir luar negeri.
  4. Mendorong penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia karena dalam era MEA (Masyarakat Ekonomi Asia/Asean) salah satu bidang yang rentan terhadap masuknya tenaga kerja asing dalam bidang perkayuan.
  5. Bersama menyikapi aturan pemerintah yang tidak atau kurang mendukung industri perkayuan terutama barecore.
  6. Mendorong dan menjaga agar produksi kita tidak over supply sehingga akan terjadi penurunan harga yang tidak diinginkan.
  7. Menjalin kerjasama yang saling menguntungkan dengan negara tujuan ekspor barecore, sehingga terjadi hubungan yang saling menguntungkan.

Ir. Hari Mulyono juga sangat  berharap perlunya untuk membuat kantor perwakilan IbcA di negara-negara importir untuk dapat meningkatkan perdagangan barecore.

Deklarasi IbcA telah dilaksanakan pada tanggal 5 Mei 2015, dihadiri oleh pengusaha barecore seluruh Indonesia, acara dibuka dan diresmikan oleh Sekjen Kementrian Lingkungan Hidup & Kehutanan Dr. Ing. Ir. Hadi Daryanto, D.E.A. Dalam acara tersebut juga diselenggarakan musyawarah nasional dan pemilihan ketua dan pengurus asosiasi. Ketua Penyelenggara acara deklarasi IbcA, Ir. Setyo Wisnu Broto, M.M mengatakan dengan terselenggaranya acara ini diharapkan dapat memberikan spirit baru di industri barecore Indonesia dan kebersamaan dalam satu wadah yakni IbcA. Diharapkan pula dengan adanya asosiasi ini akan memajukan dunia usaha barecore dan memperkuat perdagangan dan perekonomian industri kayu Indonesia di mata dunia, yang memiliki kualitas tinggi, daya saing dan daya jual tinggi.

Dalam acara deklarasi dan Munas IbcA Walikota Surakarta diwakili oleh Staff Ahli Hukum dan Politik Pemkot Surakarta Budho Laksono SH, MM, hadir pula Sekjen Kementrian Lingkungan Hidup & Kehutanan Dr. Ing. Ir. Hadi Daryanto, D.E.A, yang memberikan sambutan sekaligus membuka acara resmi Munas IbcA dengan memukul bambu dan berkolaborasi dengan musik bambu sebagai simbolisasi atas pelestarian hutan dari Indonesia Barecore Association.

Munas IbcA yang pertama ini dilaksanakan untuk memilih formatur kepengurusan IbcA. Melalui sidang anggota, dalam Musyawarah Nasional IbcA yang pertama ini, Ir. Hari Mulyono terpilih sebagai Ketua Umum IbcA, dengan didampingi AF. Sumardji Sarsono sebagai wakil ketua umum dan Sekjen IbcA Ir. Setyo Wisnu Broto, M.M.

Acara puncak Munas yaitu pengukuhan Ketua Umum yang dilaksanakan dengan khidmad, dengan penyerahan bendera Panji IbcA, sebagai simbol dimulainya program kerja IbcA untuk kemajuan industri barecore Indonesia, membangun tanpa merusak, serta pencanangan pelestarian hutan Indonesia dengan penyerahan bibit sengon kepada Ketua Umum IbcA, sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan hidup serta gerakan Go Green.

Mengusung Go Green, yang menjadi salah satu acuan kehidupan berselaras dengan alam, mencintai lingkungan hidup, acara tersebut berlangsung cukup khidmat, bertema Spirit of Indonesia, semangat kebersamaan cinta Indonesia yang dibangun sehingga tercipta dengan berbagai rangkaian acara yang terkemas apik. Deklarasi ini merupakan tonggak bersejarah industri barecore Indonesia dengan berdirinya IbcA (Indonesian Barecore Association) yang mengusung slogan “kerja!kerja!kerja!” untuk kemajuan bersama seluruh anggota IbcA.

Donwload fie :

Press Release IbcA 20 Mei 2015

Translate »