News dan Info

IBCA DITUNGGU KEKUATANNYA SEBAGAI ASOSIASI BARU

 

Di masa lalu, asosiasi yang mewadahi pelaku usaha barecore adalah ISWA (Asosiasi Pengusaha Kayu Gergajian dan  Kayu Pertukangan Indonesia). Namun, sejak 20 Mei 2015, ada wadah lain yang terbentuk yaitu IbcA (Indonesian Barecore Association). Seperti tertuang dalam siaran persnya, 7 November 2015, IBcA mengklaim menghimpun (+/-) 120 perusahaan barecore di seluruh Indonesia.  

Munculnya IbcA memunculkan aroma perpecahan di antara pelaku usaha barecore. Namun, pastinya ada segelintir kekecewaan dari para pendiri IbcA terhadap ISWA. “ISWA kurang gigih memperjuangkan barecore,” kata pemilik dan Direktur UD Abioso, Mintarjo.

Sebagai pengusaha yang bergabung dengan IbcA, Mintarjo memang punya harapan besar suara pelaku usaha barecore bisa lebih didengar oleh pemerintah. Dalam kepengurusan IbcA, Hari didampingi AF. Sumardji Sarsono sebagai wakil ketua umum dan Setyo Wisnu Broto sebagai sekjen.

Ditanya tanggapannya soal berdirinya IbcA, Ketua Umum ISWA Soewarni menanggapi santai. Menurut dia, tidak ada persoalan jika ada perusahaan-perusahaan yang memilih untuk mendirikan asosiasi terpisah. “Silakan saja. Buat saya tidak masalah,” katanya.

Menurut dia, selain pengusaha yang membentuk IbcA, masih banyak pengusaha yang memilih untuk tetap bergabung dengan ISWA. Apalagi umumnya, sebuah industri pengolahan kayu tak hanya memproduksi satu jenis produk saja.

Menurut Soewarni, mereka yang memilih untuk tetap bergabung dengan ISWA adalah pelaku usaha kehutanan yang sudah sejak lama berkecimpung di bisnis ini. “Kalau IbcA kebanyakan pemain baru,” katanya.

Soewarni sedikit meninggi ketika ditanya komentarnya tentang kurangnya perjuangan terhadap produsen barecore. Menurutnya, tak semua perjuangannya terekspos. Meski demikian, Soewarni mengklaim sudah pontang-panting memperjuangkan kepentingan industri berbasis kayu. “Banyak yang sudah diperjuangkan ISWA. Tapi kalau ada yang merasa tidak puas silakan saja. Waktu nanti yang akan membuktikan,” katanya.

Sumber : Sugiharto –  (Agroindonesia.com)


 IbcA 5 Tahun Kedepan!

FOTO BELAKANG UNTUK JANUARI-FEBRUARI (DIBERI LOGO IBCA TRANSPARAN DI KIRI BAWAH)



Asosiasi Barecore Indonesia (IbcA) lahir atas dorongan perkembangan industri barecore (lembaran papan yang terdiri dari potongan-potongan kecil kayu yg telah dikeringkan,di lem kemudian di press) yang pesat dari tahun ke tahun, perlu dibuatkan wadah yang bertujuan:
1.Memecahkan masalah2 internal maupun external.
2.Peningkatan tehnik
3.Peningkatan SDM
4.Ketersediaan bahan baku
5.Peduli selalu menjaga lingkungan.

Wadah industri barecore dinamakan Indonesian Barecore association, dideklarasikan pada tanggal 5 Mei 2015 di Solo. Perkembangan anggota pada awal deklarasi didukung oleh sekitar 67 industri,perkembangan sd sekarang sudah mencapai sekitar 107 industri dari jumlah industri sekitar 200.
Permasalahan industri barecore saat ini:
1.Terjadinya over supply dibandingkan dengan demand, diperkirakan jumlah supply sekitar 6000 kontainer 40 feet hc/bulan,demand sekitar 3000 sd 3500 container 40feet hc/bulan hal ini berakibat pada ketidakstabilan harga,
2.Ketersediaan bahan baku yang makin hari makin tidak sebanding dengan industri yang semakin berkembang.
3.Lemahnya informasi pasar export sehingga menyebabkan lemahnya tawar menawar dalam penentuan harga.
4.Tujuan export yg terbatas di negara China (90pct) Taiwan (10pct)
5.Masih adanya kebijakan pemerintah yg kurang mendorong industri barecore,sehingga menurunkan daya saing produk,serta masih terjadinya kurang sinkronnya kebijakan pusat dan daerah.

Memperhatikan hal-hal tersebut diatas asosiasi harus melakukan langkah-langkah minimal 5 tahun kedepan sbb:
1.Pendataan dan penataan kembali industri yang ada sehingga tidak terjadi over supply, maka asosiasi mengusulkan kepada pemerintah untuk melakukan MORATORIUM industri yang baik pembangunan industri baru maupun peningkatan kapasitas yang telah ada,sehingga akan didapatkan data yang akurat terhadap kapasitas industri yang ada, serta kebutuhan bahan bakunya.
2.Melakukan Gerakan penanaman pohon yg melibatkan Industri, Pemerintah dan Masyarakat,dengan cara:
Kewajiban industri untuk menyediakan bibit, sesuai perhitungan teknis bahwa setiap 1M3 barecore membutuhkan 4 pohon, jumlah pembibitan disesuaikan dengan kapasitas produksi per tahun. Kewajiban pembibitan ini dimasukkan dalam salah satu indikator penilaian didalam evaluasi SVLK yang dilakukan oleh surveyor independent.
Bibit yang disediakan oleh industri disalurkan ke masyarakat dengan gratis,dengan memanfaatkan lahan tidur maupun lahan hutan produktif, sehingga akan tercipta ketersediaan bahan baku yang lestari dan tidak merusak lingkungan, juga akan berdampak pada ekonomi masyarakat, karena akan melibatkan ratusan ribu masyarakat petani.
Aparat pemerintah daerah bertugas ikut mendorong gerakan penanaman, mengontrol dalam penyaluran bibit, sehingga Gerakan Penanaman kayu rakyat menjadi nyata. Untuk point tersebut diatas asosiasi siap menjadi mitra pemerintah dalam pelaksanaan di lapangan dan untuk kedepan dalam pengembangan industri, harapan asosiasi bisa dilibatkan dalam memberikan rekomendasi industri baru sehingga kebijakan pemerintah berjalan dgn baik.
3.Asosiasi mendorong industri dalam hal:
Diversifikasi produk yang mempunyai nilai tambah yang lebih tinggi selain barecore, antara lain : produk pintu,papan laminasi untuk perabot rumah. Memperluas pasar export diluar pasar China/Taiwan serta mendorong pasar domestik.

4.Mengusulkan kepada pemerintah dalam mengamankan bahan baku industri, sehingga perlu ditinjau kembali Permendag no.89/M-DAG/PER/10/2015 tentang ketentuan export produk industri kehutanan, yang mengijinkan export papan S4S dengan luas penampang kurang 4.000mm2, karena papan ini merupakan bahan baku industri barecore (sengon) dan bahan baku industri furniture (mahoni, jati). Serta ketentuan penghapusan ETPIK yang menurut hemat kami akan mengurangi kontrol terhadap export kayu pada umumnya oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
5.Kedepan asosiasi siap menjadi mitra diskusi pemerintah terhadap kebijakan-kebijakan yang akan dibuat terhadap kayu rakyat pada khususnya.
6.Kedepan asosiasi (IbcA) berencana membuka perwakilan di negara tujuan export yang potensial,agar mendapatkan data-data yang akurat untuk menjaga kestabilan harga, supply serta pengembangan diversifikasi produk. Asosiasi sangat mengharapkan bisa bekerjasama dengan perwakilan pemerintah di luar negeri.
7.Untuk membantu pengembangan dan penyediaan bahan penolong asosiasi telah membuat koperasi yang dikelola oleh tenaga profesional.


PERAN & TATA KELOLA IbcA

????????????????????????????????????

IbcA sebagai asosiasi mempunyai makna untuk berfungsi  sebagai pemersatu pengusaha barecore. Untuk bisa berfungsi sebagai pemersatu maka harus dapat memahami kemauan dan kepentingan para pengusaha sehingga kehadiran IbcA dapat dirasakan nyata  kemanfaatannya. IbcA meningkatakan efektifitas pengusaha barecore dalam mengupayakan revisi peraturan pemerintah yang lebih nampu menciptakan dunia usaha yang lebih baik dan keberlanjutan. IbcA mampu meningkatkan posisi tawar pengusaha dalam menghadapi buyer maupun para pemasok bahan baku.

Selain itu IbcA memberikan banyak informasi pengetahuan perkembangan teknologi dan manajemen industri barecore yang dapat memberikan peningkatan efisiensi. Kehadiran IbcA dirasakan manfaatnya bagi pemerintah sebagai mitra pembangunan ekonomi Indonesia dengan memberikan informasi yang bermanfaat dalam hal perbaikan regulasi maupun hal-hal lainnya. Untuk dapat berfungsi dengan baik tersebut maka tata kelola IbcA diarahkan pada mekanisme untuk mendapat kesepakatan dan mengkoordinasikan kepentingan dari stakeholders.

Tata kelola IbcA dibangun secara bertahap berkesinambungan guna memperoleh budaya organisasi Ibca yang mencerminkan aspek-aspek: (1) kredibel, (2) transparan, (3) akuntabel, (4) bertanggung jawab, (5) konsisten dan (6)  berkeadilan. Oleh karena itu dalam menjalankan kegiatan atau kebijakan oganisasi IbcA harus disertai dasar (referensi) dan bukti prosesnya  (dokumentasi) baik dokumentasi admin maupun kegiatannya. Dokumentasi surat-surat pengangkatan personil dan jabatannya disertai tugas dan kewenangannya surat2 keluar dsb.

 Kredibel berarti antara progam dan realisasinya derajat dan akurasinya cukup tinggi. Transparan berarti apa yang dilaksanakan kegiatannya terkoordinasi dengan baik, berbagai pihak yang terkait dalam kepengurusan organisasi mengetahui dan berproses secara profesional, terdokumentasi.  Tidak boleh tertutup (tersembunyi), tidak boleh ada organisasi dalam organisasi. Akuntabel berarti organisasi dijalankan secara terukur dan dapat dikalkulasi dengan paraneter tertentu dan terkait. Bertanggung jawab berarti kegiatannya dijalankan sesuai dengan aturan organisasi, mampu memberikan penjelasan kemanfaatannya yang jauh dibandingkan pengorbanannya ataupun biayanya. Konsisten berarti IbcA dalam menjalankan organisasi harus menjalankan sesuai yang direncanakan sejak awal, apabila ada perubahan harus mampu menjelaskan secara logis dan etis. Berkeadilan berarti menerapkan reward and punisment serta proposionalitas dalam menjalankan organisasi.

 IbcA selain bermanfaat bagi pengusaha, dan pemerintah juga bermanfaat bagi masyarakat baik dalam penyerapan tenaga kerja dan partisipasi  pemeliharaan kelestarian lingkungan. Iklim usaha industri bare core yang kondusif memacu perolehan devisa, pajak pendapatan pengusaha, masyarakat yang berkelanjutan, lestari dan harmoni para stakeholders yang memperhatikan tata hubungan yang mengedepankan sinergitas.

Agus Surata Dr, M. P, Ir.


Rencana Program Kerja IbcA 2015-2020

Logo IBCA 4-1

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas terselesaikannya penyusunan Rencana Program Kerja (RPK) Indonesian Bare Core Association IbcA periode 2015 – 2020. Penetapan rancangan ini didasarkan tiga alasan. Pertama, Rencana Strategis (Renstra) IbcA ditetapkan berlaku 2015-2020. Kedua, Kinerja Pengurus Assosiasi dapat dievaluasi setiap tahun sehingga target pencapaian kerja tetap dapat diukur melalui bentuk akuntabilitasnya. Ketiga, dengan rancangan ini dapat diwujudkan kesinambungan program kerja dalam masa pergantian pengurus nantinya.
Penyusunan program kerja ini didasarkan pada visi, misi, dan tujuan yang akan dicapai IbcA, serta mengacu kepada Rencana Strategis (Renstra) IbcA 2015 – 2020.

Penjabaran program didasarkan kepada tiga pilar yang ditetapkan dalam Renstra 2015 – 2020. Pilar yang dimaksud adalah : (1) Ketersediaan bahan baku dengan standar kwalitas yang baik, (2) Perluasan pasar & inovasi produk (3) Stabilitas harga & standarisasi produk. Program Kerja berisi garis-garis besar program selama tahun 2015 – 2020, yang kegiatannya akan dilaksanakan dalam jangka pendek (tahunan). Disamping itu, sebagai bentuk keberlanjutan (sustainability) program.

Tantangan perusahaan barecore ke depan semakin berat sejalan dengan akan diberlakukannya masyarakat ekonomi ASEAN & pemberlakuan masyarakat ekonomi asia. Kebijakan tersebut membawa konsekuensi pada perlunya berbagai terobosan dan perubahan mekanisme kerja agar lebih efektif dan efisien. Untuk itu, dukungan semua pihak sangat diharapkan agar pelaksanaan program kerja ini dapat berjalan sesuai dengan tujuan.
Rencana Program Kerja (RPK) IbcA merupakan suatu hal yang penting bagi terselenggaranya manajemen kinerja yang baik. Untuk tujuan itu, RPK menjadi suatu hal yang cukup kritikal yang harus dijadikan fokus perhatian oleh manajemen. RPK juga merupakan tahap penting dalam melaksanakan Rencana Strategis dan Rencana Jangka Menengah IbcA.

Sebagai bagian dari manajemen kinerja yang baik, RPK memerlukan pemikiran yang keras untuk menyelaraskan berbagai hal yang telah dituangkan dalam Rencana Strategis dan kemungkinan pelaksanaannya. RPK yang baik haruslah selaras dan terintegrasi dengan penataan program di keseluruhan organisasi dan perencanaan kegiatan di tingkat unit pelaksana. RPK juga harus terintegrasi dengan rencana tindakan maupun perencanaan operasional yang lebih rinci sehingga segala sesuatu yang telah disusun dan direncanakan pencapaian sasaran kinerjanya dapat secara jelas dan realistis dilaksanakan dengan sebaik-baiknya sesuai yang telah diprogramkan dan menjadi instrumen evaluasi pengukuran kinerja. Namun demikian, RPK juga bukan merupakan dokumen yang “kebal” revisi, mengingat terkadang dalam prakteknya, suatu perencanaan dapat berubah sesuai dinamika berbagai hal yang berkembang pada saat itu, utamanya yang terkait dengan permasalahan kepentingan bersama anggota IbcA.

Syukur alhamdulillah bahwa Rencana Program Kerja IbcA Tahun 2015/2020 telah dapat diselesaikan sehingga dapat menjadi pedoman dalam pelaksanaan program, kegiatan hingga anggaran pada periode berikutnya.

Akhirnya, kepada semua pihak,baik dari bidang-bidang yang ada di lingkungan IbcA maupun bidang-bidang kerja assosiasi lain yang telah terlibat dan memberikan masukan dalam proses penyusunan Rencana Program Kerja ini, kami ucapkan banyak terima kasih.

Surakarta, 20 Mei 2015
IbcA,
Indonesian Bare Core Association


Translate »