• Pasar Ekspor Light Wood Masih Tertuju ke China

    timthumb

    Launching Indonesian Light Wood Association (ILWA)

    31 Juli 2017. SOLO (Suara Karya): China dan Taiwan masih mendominasi pasar ekspor produk light wood atau kayu ringan dari Indonesia. Kebutuhan light wood untuk China mencapai 3.500 kontainer per bulan.

    “Kalau kemampuan kapasitas kita bisa mencapai 6.000 kontainer per bulan. Pasar China masih mendominasi hampir 95 persen, baru 5 persen Jepang, Korea dan yang lain,” jelas Wakil Ketua Umum Indonesian Light Wood Association (ILWA), Sumardji Sarsono, di sela-sela launching ILWA di Hotel Best Western Premier, Solo Baru, Jawa Tengah, Senin (31/7).

    Nilai ekspor ke China saat ini mencapai 250 dolar AS per meter kubik. Menurut Sumardji, saat ini yang menjadi tujuan utama masih pasar Asia sedangkan pasar Eropa masih sangat kecil. Untuk masuk ke pasar Eropa dibutuhkan inovasi dan pengembangan dari produk light wood.

    “Sudah masuk ke Eropa tapi kecil sekali, apalagi pemasaran ke Eropa juga butuh biaya yang lebih tinggi. Pasar Eropa membutuhkan inovasi seperti dalam bentuk pintu, kursi, dan lain-lain,” jelasnya lagi.

    ILWA yang dulunya bernama Indonesian Barecore Association (IbcA) itu, akan terus mendorong anggotanya untuk mengembangkan light wood. Karena pasar ini memiliki kemampuan tinggi hanya tinggal melakukan inovasi. Terkait bahan baku, Sumardji mengatakan bahan baku di Indonesia masih sangat cukup. Karena bahan baku yang digunakan berasal dari hutan rakyat yang bisa ditanam kembali. Pertahun dibutuhkan sekitar 20 juta meter kubik kayu untuk produk barecore dan playwood.

    “Kami juga menggalakkan penanaman kembali, jika tidak maka dua atau tiga tahun lagi pasti akan habis,” katanya.
    Sementara itu Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup, Hadi Daryanto seusai membuka acara mengatakan saat ini pasar produk light wood masih terbuka. Pemerintah memberikan dukungan dalam pemasaran produk light wood, diantaranya dengan mempermudah perizinan.
    “Bahan bakunya kan berasal dari kayu rakyat, untuk izinnya tidak sulit. Untuk modal, Kementerian Lingkungan Hidup juga telah melakukan kerjasama dengan perbankan untuk pemberian kredit usaha rakyat (KUR),” jelas Hadi.

    Jika sebelumnya petani hutan rakyat tidak bankable saat ini sudah dipermudah melalui KUR. Melalui kerjasama antara KLH dengan perbankan tersebut diharapkan produksi kayu rakyat meningkat. Perhutani juga akan diuntungkan karena mendapatkan pembagian 30 persen sedangkan 70 persen untuk rakyat.

    Sumber : Suara Karya (Endsng)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »