• DUKUNGAN BESAR HUTAN RAKYAT

    Meski teknologinya sederhana, industri barecore memberi kontribusi yang besar terhadap perekonomian Indonesia dan penyerapan tenaga kerja. Industri ini juga diklaim ramah lingkungan karena memanfaatkan pohon hasil penanaman di hutan rakyat.

    Menurut catatan IbcA, pada tahun 2015, kontribusi devisa dari barecore bisa mencapai 625 juta dolar AS. Sampai September 2015 saja, catatan nilai ekspor barecore sudah mencapai 468,6 juta dolar AS, melebihi catatan tahun 2014 yang sekitar 450 juta dolar AS.

    Dengan catatan ekspor tersebut, maka penyerapan tenaga kerja di industri ini pun cukup banyak. Secara langsung, tenaga kerja yang bisa diserap sebanyak sekitar 400 orang, yaitu mereka yang bekerja di pabrik. Tapi jika memperhitungkan tenaga kerja tidak langsung, yaitu mereka yang bekerja di hutan rakyat, industri kayu gergajian dan transportasi, maka jumlah tenaga kerja bisa mencapai 222.425 orang. Jumlah akan lebih besar lagi jika kapasitas terpasang saat ini bisa diutilisasi penuh.

    IbcA juga menyatakan, industri barecore adalah industri yang hijau meski memanfatkan kayu sebagai bahan baku. Pasalnya, kayu yang dimanfatkan adalah kayu sengon hasil penanaman masyarakat. Sengon bisa dipanen hanya dalam waktu 5-6 tahun saja.

    Selama permintaan dari industri ada dan menguntungkan, maka petani hutan rakyat akan terus menanam. Pelaku industri pun mau merogoh koceknya untuk menyediakan bibit gratis. Hal ini memastikan kesinambungan pasokan bahan baku di masa yang akan datang.

    Sebagai gambaran, setiap kontainer barecore berkapasitas 58 m3, harus didukung dengan penanaman seluas 0,6 hektare. Begini hitungannya. Dalam satu kontainer, dengan rendemen 43%, bahan baku kayu gergajian yang diperlukan adalah 136 m3. Dengan faktor recovery 80%, jumlah volume tersebut setara dengan 170 batang log atau sekitar 243 batang pohon dengan asumsi setiap pohon memiliki diameter 30 centimeter dengan tinggi 10 meter.

    Jika satu hektare lahan bisa ditanami 400 batang segon per hektare, maka dengan kebutuhan bahan baku sebanyak 243 batang per hektare, maka setara dengan 0,60 hektare.

    Sumber :  (Agroindonesia:Sugiharto)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »