• Perang Harga Ancam Industri Barecore

    Repost 08 Maret 2016

    Untitled

    Hutan rakyat akhirnya menjadi tulang punggung kebangkitan industri kayu nasional, dan menopang produksi kayu panel serta barecore di Jawa. Namun, pasar yang hanya bertumpu pada Tiongkok menyebabkan oversupply dan berujung rontoknya harga. Bagaimana peran asosiasi dan pemerintah?

    Banjir pasok. Itulah yang terjadi dengan produk barecore. Produk lanjut dari kayu gergajian berupa lembaran seperti kayu lapis (plywood) ini — yang berasal dari potongan-potongan kayu yang direkatkan satu sama lain dengan lem — menjadi produk unggulan industri kayu di Jawa. Industri ini tumbuh subur seiiring ketersediaan pasok bahan baku dari kayu sengon (albasia) rakyat.

    Dari catatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, kinerja ekspor produk dengan kode HS 4412990010 ini memang mengesankan. Jika tahun 2013 nilai devisa masih 532,6 juta dolar AS dengan volume 1,88 juta m3, angka itu naik tahun 2014 menjadi 628,8 juta dolar AS dengan volume 2,26 juta m3. Namun, tahun lalu, kinerja tersebut mulai melambat, bahkan menurun. Devisa yang dihasilkan merosot menjadi 619,1 juta dolar AS. Penurunan tersebut tentu bisa lebih besar jika tidak ditopang oleh kenaikan volume 10,4% menjadi 2,5 juta m3.

    Yang mengkhawatirkan, tren penurunan tersebut nampaknya bakal terus terjadi. Pasalnya, industri barecore terus tumbuh dengan adanya pasok kayu rakyat. Saat ini, tercatat 200 industri barecore beroperasi secara nasiona.. Parahnya, hampir seluruh produk barecore nasional atau 90% lebih ditujukan ke pasar Tiongkok. Indonesia membanjiri pasar 5.000-6.000 konteiner/bulan, padahal kebutuhan Tiongkok hanya 2.500 konteiner/bulan.
    Tidak aneh, hukum besi ekonomi pun berlaku. Pasok melimpah, harga terjun bebas. “Pembeli Tiongkok akhirnya mempermainkan harga,” ujar Mintarjo, direktur sekaligus pemilik pabrik barcecore UD Abioso, yang berlokasi di Boyolali, Jawa Tengah. Tahun lalu, harga barecore masih nangkring di kisaran 320-340 dolar AS/m3. Tahun ini, harga menukik tinggal 255-260 dolar AS/m3.

    Dengan kapasitas besar dan pasar tunggal, maka tinggal menghitung hari terjadinya penutupan pabrik. Apalagi, tak tertutup kemungkinan terjadi perang harga sesama pabrikan, yang menciptakan seleksi alam: siapa kuat, dia bertahan. Itu sebabnya, Mintarjo pun mengharapkan peran pemerintah dan asosiasi, yakni Indonesia Barecore Association (IbcA).

    Lho, mengapa IbcA, bukan ISWA? Ya, ini memang wadah baru pengusaha barecore, yang mengklaim punya anggota 120 perusahaan di seluruh Indonesia. Tapi, asal tahu, inisiator asosiasi yang didirikan tahun 2015 ini adalah Hari Mulyono. Jadi, tak aneh jika Mintarjo punya harapan besar suara pelaku usaha barecore bisa lebih didengar pemerintah. Apalagi, selain pabrik dan kinerja ekspor, ada hutan rakyat yang bisa diusung.

    Sumber : Agroindonesia.co.id

2 Responsesso far.

  1. Gatot mengatakan:

    Pengen ikut jadi anggota. Gimana caranya ya

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »