• Inggris Pantau Pelaksanaan SVLK di Boyolali

    image1

    Boyolali: Duta besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik meminta produsen kayu di Indonesia  terus memperbaiki Sertifikasi Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) agar produk kayu Indonesia mampu bersaing dan bebas masuk ke kawasan Eropa tanpa hambatan.

    Untuk memastikan SVLK di Indonesia berjalan baik, Moazzam berkunjung ke sejumlah pabrik kayu pemegang SVLK, salah satunya UD. Abiyoso di desa Ngargosari, Ampel, Boyolali, Rabu 24/2/2016. Dia memantau pelaksanaan SVLK di pabrik tersebut.

    “Saya Ingin tahu bagaimana produsen kayu melengkapi SVLK agar kayu mereka bisa masuk pasar Eropa tanpa hambatan” kata Moazzam, saat berbincang dengan Espos, kemarin.

    Moazzam menyebut  saat ini Eropa telah membuat regulasi bahwa importir kayu di Inggris harus memperlihatkan sumber kayunya. Kayu harus legal dan berkelanjutan.

    “Harapan kami terhadap pemerintah Indonesia adalah seluruh produsen kayu di Indonesia bisa melengkapi SVLK. Kalau produsen kayu bisa menyelesaikan hambatan, pembeli di Eropa akan melihat bahwa kayu Indonesia adalah prioritas pertama. Jadi SVLK adalah sumber utama agar produk kayu Indonesia bisa bersaing”.

    Peluang pasar kayu di Uni Eropa dinilai masih sangat luas. Bahkan nilai import kayu Uni Eropa dari Indonesia cukup besar. Sayangnya, masih ada produsen kayu Indonesia yang mengekspor barang ke Eropa melalui Tiongkok.

    “Produsen mengekspor kayu ke China, di China di proses lagi baru di ekspor ke Eropa. Inggris dan Uni Eropa adalah pasar yang besar, tetapi  produsen kayu di Indonesia harus menjaga persaingan harus terus berinovasi, investasi, dan sertifikasi agar bisa masuk Eropa.

    Pemilik UD. Abiyoso, Mintarjo menjelaskan sumber kayu di Abiyoso adalah kayu rakyat. Abiyoso berinvestasi dengan menanam pohon rata-rata 700.000 pohon per tahun dengan jenis pohon sengon dan jabon. Pohon-pohon itu ditanam petani di sejumlah wilayah di Boyolali”. Jadi, kami tidak hanya menebang tetapi juga menanam. Ini yang menjadi tuntutan SVLK”, kata Mintarjo.

    Regulasi soal SVLK mengatur agar kayu yang di ekspor ke Uni Eropa adalah kayu legal, bukan kayu curian. Regulasi ini untuk menghindari  pembalakan liar dan mengurangi pemanasan global. Kebetulan satu-satunya negara produsen kayu yang saat ini sudah menerapkan SVLK adalah Indonesia. Bahkan China dan Thailand baru belajar soal SVLK ke sini”, kata dia.

    Kapasitas produksi kayu di Abiyoso mencapai rata-rata 40.000 meter kubik per tahun untuk playwood dan 50.000 meter kubik per tahun untuk barecore. Sementara itu, volume ekspor kayu di UD. Abiyoso rata-rata mencapai 60 kontainer per bulan dengan volume per kontainer berkisar 58 meter kubik.

    “Kami kirim kayu ke China dulu. Di China kayu- kayu itu di buat bermacam-macam produk mebel baru kemudian dipasarkan ke seluruh dunia”.

    Penulis : Hijriyah Al Wakhidah

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »